PULANG YANG PALING SUNYI Ada orang-orang yang hadir dalam hidup kita seperti musim. Datang, menetap sebentar, lalu pergi meninggalkan cuaca yang berbeda. Namun ada pula orang-orang yang tidak pernah benar-benar pergi. Mereka hanya berubah bentuk. Aku mengenal seorang lelaki seperti itu. Mula-mula ia adalah teman yang terlalu sering kutemui. Lalu menjadi rumah bagi percakapan-percakapan yang tidak menemukan tempat di mana pun. Setelahnya, ia berubah menjadi luka. Dan bertahun-tahun kemudian, entah bagaimana, ia tetap menjadi jalan pulang. Padahal seharusnya tidak. Kami pernah saling mencintai dalam usia yang masih mengira perasaan adalah alasan yang cukup untuk bertahan. Ternyata tidak. Ada perempuan lain. Ada pintu yang diam-diam dibuka ketika aku masih sibuk percaya bahwa kami sedang membangun rumah yang sama. Sisanya sederhana. Orang-orang menyebutnya pengkhianatan. Aku menyebutnya akhir. Setidaknya, waktu itu aku mengira demikian. Sebab ada hal-hal yang selesai di bibir, tetap...
BERAKHIR DI JANUARI Aku pernah percaya bahwa beberapa orang memang ditakdirkan untuk datang dua kali. Aku bertemu Raka di usia yang masih terlalu muda untuk memahami bagaimana cinta bisa menjadi tempat pulang sekaligus tempat paling menyakitkan untuk ditinggalkan. Namanya bukan Raka. Tapi untuk cerita ini, aku akan memanggilnya begitu. Waktu itu semuanya terasa sederhana. Kami saling mengabari tanpa alasan, bertengkar karena hal-hal kecil, lalu baikan lagi sebelum hari benar-benar malam. Satu tahun bersama terasa cepat sekali, seperti lagu yang belum sempat selesai tapi sudah dipotong di tengah jalan. Lalu kami putus. Tidak ada ledakan besar, tidak ada pengkhianatan yang dramatis. Hanya dua orang yang perlahan kehilangan arah dan akhirnya memilih diam. Setelah itu, satu tahun berlalu tanpa kami. Aku mencoba terbiasa hidup tanpa namanya muncul di layar ponsel. Meski sesekali, di jam-jam tertentu, aku masih mencari bayangannya di banyak hal—di lagu favoritku, di jalan yang pernah kami le...