Langsung ke konten utama

Postingan

  PULANG YANG PALING SUNYI Ada orang-orang yang hadir dalam hidup kita seperti musim. Datang, menetap sebentar, lalu pergi meninggalkan cuaca yang berbeda. Namun ada pula orang-orang yang tidak pernah benar-benar pergi. Mereka hanya berubah bentuk. Aku mengenal seorang lelaki seperti itu. Mula-mula ia adalah teman yang terlalu sering kutemui. Lalu menjadi rumah bagi percakapan-percakapan yang tidak menemukan tempat di mana pun. Setelahnya, ia berubah menjadi luka. Dan bertahun-tahun kemudian, entah bagaimana, ia tetap menjadi jalan pulang. Padahal seharusnya tidak. Kami pernah saling mencintai dalam usia yang masih mengira perasaan adalah alasan yang cukup untuk bertahan. Ternyata tidak. Ada perempuan lain. Ada pintu yang diam-diam dibuka ketika aku masih sibuk percaya bahwa kami sedang membangun rumah yang sama. Sisanya sederhana. Orang-orang menyebutnya pengkhianatan. Aku menyebutnya akhir. Setidaknya, waktu itu aku mengira demikian. Sebab ada hal-hal yang selesai di bibir, tetap...
Postingan terbaru
BERAKHIR DI JANUARI Aku pernah percaya bahwa beberapa orang memang ditakdirkan untuk datang dua kali. Aku bertemu Raka di usia yang masih terlalu muda untuk memahami bagaimana cinta bisa menjadi tempat pulang sekaligus tempat paling menyakitkan untuk ditinggalkan. Namanya bukan Raka. Tapi untuk cerita ini, aku akan memanggilnya begitu. Waktu itu semuanya terasa sederhana. Kami saling mengabari tanpa alasan, bertengkar karena hal-hal kecil, lalu baikan lagi sebelum hari benar-benar malam. Satu tahun bersama terasa cepat sekali, seperti lagu yang belum sempat selesai tapi sudah dipotong di tengah jalan. Lalu kami putus. Tidak ada ledakan besar, tidak ada pengkhianatan yang dramatis. Hanya dua orang yang perlahan kehilangan arah dan akhirnya memilih diam. Setelah itu, satu tahun berlalu tanpa kami. Aku mencoba terbiasa hidup tanpa namanya muncul di layar ponsel. Meski sesekali, di jam-jam tertentu, aku masih mencari bayangannya di banyak hal—di lagu favoritku, di jalan yang pernah kami le...

Cerita: Yang Datang Terlambat

Tiga bulan. Itu waktu yang tak lama, tapi cukup bagi Aruna untuk mengenal Alvino. Lelaki yang datang dengan tutur lembut, cara bicara yang menenangkan, dan perhatian kecil yang membuat dunia Aruna terasa lebih ringan. Mereka bukan pasangan sempurna, tapi saling melengkapi dalam caranya masing-masing. Segalanya berjalan baik—sampai nama itu muncul: Sinta . Gadis berkerudung lembut, tutur katanya halus, pandangannya selalu ditundukkan. Dari luar, tak ada yang bisa menebak bahwa kehadirannya perlahan menggeser posisi Aruna dalam hidup Alvino. Tak ada perpisahan yang benar-benar indah. Aruna tahu itu. Tapi rasanya tetap menyesakkan saat ia perlahan disingkirkan, bukan karena kesalahan, melainkan karena seseorang yang datang dengan citra “lebih baik.” Alvino memilih pergi, dan Sinta menggantikan tempatnya—bersamanya, dan bahkan di hati keluarga Alvino. Satu tahun lebih berlalu. Sinta dan Alvino tampak bahagia, setidaknya dari luar. Aruna belajar untuk diam. Ia menyibukkan diri, mengha...
“Kalau dulu kita jadi…” Hai kamu, Kadang aku masih mikir, “Kalau dulu kita jadi, mungkin sekarang kita lagi duduk bareng di kafe kecil itu, ngobrolin hidup sambil ngetawain masa lalu.” Kalau dulu kita jadi, mungkin kita udah nyusun rencana kecil buat tahun depan. Liburan ke tempat yang kita omongin terus, bikin konten lucu, atau sekadar leha-leha sambil dengerin musik yang kita repeat terus waktu itu. Tapi kita gak jadi. Dan gak semua hal yang nyaris jadi itu harus disesali. Karena meskipun banyak hal yang belum kita lakuin bareng, kamu juga tahu… gak semua mimpi bisa tumbuh di tanah yang sama. Sekarang, aku cuma pengin bilang: aku gak apa-apa. Meskipun kadang masih kangen sama versi diri yang dulu semangat karena kamu, aku juga mulai belajar sayang sama versi yang tetap berdiri meski kamu gak ada. Aku akan tetap pergi ke tempat-tempat itu. Tetap nulis hal-hal receh di notes. Tetap ketawa keras walau bukan kamu yang duduk di sebelahku. Karena aku gak butuh “jadi” sama kamu untuk tetap ...

PUISI

"Aku, Yang Diam-Diam Luka" Aku diam di antara kabar duka, menyimpan iba yang tak bisa aku ucapkan karena di balik tangismu, ada genangan air mataku sendiri yang tak sempat kau lihat. Aku bukan siapa-siapa dalam kehilanganmu, tapi juga bukan batu yang tak punya rasa. Aku ingin mengulurkan tangan, tapi takut jariku patah karena menyentuh kenangan yang belum sembuh. Sementara dia— orang yang pernah aku jaga hatinya, kini berdiri di sisimu menabur doa di atas makam, dan perlahan... menanam duri di dadaku sendiri. Aku bukan iri pada dukamu. Aku hanya… hancur karena tahu, bahkan di momen paling sunyimu, namaku tak sempat kau cari, tapi lukaku tetap tumbuh—tanpa izinmu. Biar, aku simpan semuanya dalam sunyi, karena aku tahu, aku tak bisa ikut menangisimu tanpa mengkhianati hatiku sendiri.

AIRA & REVAN (NARA'S POV)

Aku buat juga versi dari cerita sudut pandang orang ketiga—yang selama ini hanya muncul sebagai "pengganggu", tapi sebenarnya juga manusia. Dia punya rasa. Dia punya harapan. Dan... dia juga patah. —kita panggil dia Nara . selamat membaca, semoga kalian suka yaaa Judul: “Aku yang Datang Terlambat” (POV Nara) Aku tahu aku bukan tokoh utama dalam cerita mereka. Mungkin cuma semacam angin yang datang tiba-tiba, bikin badai sebentar, lalu ditinggal begitu saja. Tapi aku juga manusia. Dan aku juga jatuh cinta. Namaku Nara. Dan dari awal aku tahu—Revan punya tempat paling besar di hatinya untuk Aira. Tapi aku bodoh, atau mungkin cuma terlalu ingin dipercaya. Aku pikir, kalau aku sabar, kalau aku ada terus, dia bakal lihat aku. Waktu itu mereka putus. Aku tahu semua orang bilang aku penyebabnya. Padahal... aku juga nggak pernah diminta untuk datang. Aku cuma muncul, waktu Aira lagi menjauh, dan Revan lagi rapuh. Dia cerita banyak ke aku. Tentang Aira, tentang sepinya...

AIRA & REVAN (REVAN POV)

Judul: “Yang Gagal Aku Jaga” Kalau kamu tanya siapa perempuan paling rumit sekaligus paling aku rindukan—jawabannya Aira. Aku dan dia itu kayak lagu lama yang nggak pernah selesai dimainkan. Dulu kami sahabatan, terlalu dekat sampai semua orang ngira kami pacaran. Padahal waktu itu aku cuma berani nunjukin rasa lewat perhatian kecil: nganterin dia pulang, dengerin curhatnya sampai tengah malam, atau nyimpen semua makanan yang dia suka. Sampai malam itu, waktu aku mabuk dan semua yang kupendam tumpah begitu aja. "Aku suka kamu, Ra... dari dulu." Aku pikir dia bakal kabur, atau ketawa. Tapi besoknya, dia ngajak aku jalan, dan dari situlah kami mulai sesuatu yang baru—lebih dari sahabat. Dan seperti semua yang terlalu cepat tumbuh, kami juga cepat patah. Waktu itu ada Tiara. Dia temen nongkrong, temen cerita juga. Aku nggak pernah punya niat buat nyakitin Aira, tapi aku juga terlalu pengecut buat ngusir orang yang selalu ada pas Aira lagi sibuk. Aku kejebak di tengah, da...