BERAKHIR DI JANUARI Aku pernah percaya bahwa beberapa orang memang ditakdirkan untuk datang dua kali. Aku bertemu Raka di usia yang masih terlalu muda untuk memahami bagaimana cinta bisa menjadi tempat pulang sekaligus tempat paling menyakitkan untuk ditinggalkan. Namanya bukan Raka. Tapi untuk cerita ini, aku akan memanggilnya begitu. Waktu itu semuanya terasa sederhana. Kami saling mengabari tanpa alasan, bertengkar karena hal-hal kecil, lalu baikan lagi sebelum hari benar-benar malam. Satu tahun bersama terasa cepat sekali, seperti lagu yang belum sempat selesai tapi sudah dipotong di tengah jalan. Lalu kami putus. Tidak ada ledakan besar, tidak ada pengkhianatan yang dramatis. Hanya dua orang yang perlahan kehilangan arah dan akhirnya memilih diam. Setelah itu, satu tahun berlalu tanpa kami. Aku mencoba terbiasa hidup tanpa namanya muncul di layar ponsel. Meski sesekali, di jam-jam tertentu, aku masih mencari bayangannya di banyak hal—di lagu favoritku, di jalan yang pernah kami le...
Selamat datang, selamat membaca. Mohon maaf berantakan.