BERAKHIR DI JANUARI
Aku pernah percaya bahwa beberapa orang memang ditakdirkan untuk datang dua kali.
Aku bertemu Raka di usia yang masih terlalu muda untuk memahami bagaimana cinta bisa menjadi tempat pulang sekaligus tempat paling menyakitkan untuk ditinggalkan. Namanya bukan Raka. Tapi untuk cerita ini, aku akan memanggilnya begitu.
Waktu itu semuanya terasa sederhana. Kami saling mengabari tanpa alasan, bertengkar karena hal-hal kecil, lalu baikan lagi sebelum hari benar-benar malam. Satu tahun bersama terasa cepat sekali, seperti lagu yang belum sempat selesai tapi sudah dipotong di tengah jalan.
Lalu kami putus.
Tidak ada ledakan besar, tidak ada pengkhianatan yang dramatis. Hanya dua orang yang perlahan kehilangan arah dan akhirnya memilih diam. Setelah itu, satu tahun berlalu tanpa kami. Aku mencoba terbiasa hidup tanpa namanya muncul di layar ponsel. Meski sesekali, di jam-jam tertentu, aku masih mencari bayangannya di banyak hal—di lagu favoritku, di jalan yang pernah kami lewati, bahkan di cara langit sore berubah warna.
Dan lucunya, setelah satu tahun berpisah, dia kembali.
“Coba lagi, yuk,” katanya waktu itu.
Orang-orang bilang jangan mengulang cerita yang pernah gagal. Tapi mereka lupa, kadang hati lebih percaya kenangan daripada logika. Jadi aku kembali. Kami kembali. Dan selama satu tahun berikutnya, aku benar-benar percaya bahwa mungkin ini akhirnya. Mungkin dua orang memang perlu kehilangan dulu supaya bisa saling menemukan dengan lebih benar.
Kami mulai membicarakan hal-hal yang dulu terasa terlalu jauh. Tentang rumah kecil. Tentang dapur. Tentang ulang tahun yang dirayakan sederhana. Tentang lamaran yang dilakukan tepat di hari ulang tahun seseorang—karena katanya itu romantis, seperti memberi dua kebahagiaan sekaligus dalam satu tanggal.
Aku ingat sekali bagaimana matanya berbinar saat mengatakan itu.
Dan aku, sebodoh itu, menyimpan mimpi tersebut baik-baik.
Tapi cinta ternyata tidak selalu kalah karena kurang sayang. Kadang ia kalah karena terlalu banyak keraguan. Karena restu yang tak kunjung datang. Karena ada hal-hal yang tidak pernah dijelaskan dengan utuh. Karena ada seseorang yang terus berkata “tunggu dulu” tanpa pernah benar-benar tahu sampai kapan.
Hubungan kami retak perlahan.
Aku lelah menebak-nebak isi kepalanya sendiri. Lelah memahami seseorang yang bahkan tidak bisa menjelaskan apa yang ia mau. Sampai akhirnya kami putus lagi.
Kali ini rasanya lebih sunyi.
Bukan karena tidak cinta, justru karena masih terlalu cinta.
Aneh memang. Setelah jadi mantan, kami malah tetap saling menghubungi seperti tidak pernah benar-benar selesai. Kadang dia mengirim pesan singkat tanpa tujuan jelas. Kadang hanya bertanya aku sudah makan atau belum. Kadang cuma mengomentari hal random yang membuatku lupa kalau sebenarnya kami sudah bukan siapa-siapa. Dan aku membiarkannya. Mungkin karena diam-diam aku juga belum rela.
Menjelang penghujung Desember 2025, ia sempat mengajakku bertemu. Katanya, ia ingin belajar bermain billiard dariku. Awalnya aku menyetujuinya, namun tepat di hari yang sudah direncanakan, ternyata aku mendapat pekerjaan ke luar kota—kebetulan di kota tempatnya berada. Pada akhirnya, pertemuan itu batal terjadi. Ia sempat menawarkan diri untuk mengantarkanku pulang, tetapi kutolak karena sebelumnya aku sudah berjanji pulang bersama atasanku.
Entah karena gengsi, takut semakin susah pergi, atau mungkin karena aku pikir masih ada banyak waktu untuk kami berbicara nanti. Aku tidak tahu kalau ternyata Januari akan datang membawa kabar yang mengubah semuanya.
Tanggal 10 Januari, dia melamar perempuan lain.
Lucunya lagi, tepat di hari ulang tahun perempuan itu.
Persis seperti wishlist kami dulu.
Waktu mendengar kabar itu, aku tidak langsung menangis. Aku cuma diam cukup lama sampai dadaku terasa sesak sendiri. Rasanya seperti melihat seseorang mengambil masa depan yang pernah dijanjikan kepadamu, lalu memberikannya pada orang lain dengan sangat mudah.
Dan di situlah aku sadar: beberapa orang memang tidak pergi sekaligus. Mereka pergi sedikit demi sedikit, sampai suatu hari kamu baru menyadari bahwa yang tersisa hanyalah kenangan.
Hari itu juga aku memblokir semuanya.
Instagram. WhatsApp. TikTok. Semua akses yang menghubungkan dia kepadaku hilang dalam satu malam. Aku tidak mau lagi menjadi rumah singgah seseorang yang sedang bersiap pulang ke orang lain.
Tapi lucunya, bahkan setelah itu, semesta masih terasa suka bercanda.
Teman-temannya kadang menghubungiku, bertanya kabar dengan basa-basi yang terlalu mudah ditebak. Beberapa temanku juga suka menggoda, mencoba membuatku tertawa supaya aku tidak terlihat terlalu hancur. Dan aku memang tertawa. Kadang keras sekali. Kadang sampai orang lain mengira aku sudah baik-baik saja.
Padahal ada bagian dari diriku yang masih belum mengerti.
Bagaimana seseorang bisa begitu dekat selama bertahun-tahun, lalu tiba-tiba menjadi masa lalu milik orang lain.
Kalau dihitung kasar, mungkin hampir empat tahun cerita itu hidup di dalamku.
Empat tahun bukan waktu yang sebentar. Ada banyak versi diriku yang tumbuh bersama namanya. Ada banyak mimpi yang dulu kupikir akan berakhir dengan “kita”. Dan sekarang, saat dia bersiap mengucap akad untuk perempuan lain, aku cuma bisa duduk diam sambil belajar menerima satu hal:
Bahwa cinta tidak selalu ditakdirkan untuk memiliki.
Kadang ia hanya datang untuk mengajarkan bagaimana rasanya berharap terlalu jauh pada manusia.
Dan meskipun sampai hari ini masih ada bagian kecil dalam diriku yang bertanya, “Kalau waktu itu aku menerima ajakan bertemunya di bulan Desember, apakah semuanya akan berbeda?”
aku tahu jawabannya mungkin tetap sama.
Kalau seseorang benar-benar ingin tinggal, ia tidak akan membuatmu hidup dalam begitu banyak ketidakjelasan.
Jadi sekarang aku memilih pergi dengan benar.
Bukan karena sudah tidak cinta.
Tapi karena akhirnya aku belajar mencintai diriku sendiri lebih dulu.
(arywmu)
Komentar
Posting Komentar