Langsung ke konten utama

 

PULANG YANG PALING SUNYI

Ada orang-orang yang hadir dalam hidup kita seperti musim.

Datang, menetap sebentar, lalu pergi meninggalkan cuaca yang berbeda.

Namun ada pula orang-orang yang tidak pernah benar-benar pergi.

Mereka hanya berubah bentuk.

Aku mengenal seorang lelaki seperti itu.

Mula-mula ia adalah teman yang terlalu sering kutemui. Lalu menjadi rumah bagi percakapan-percakapan yang tidak menemukan tempat di mana pun. Setelahnya, ia berubah menjadi luka. Dan bertahun-tahun kemudian, entah bagaimana, ia tetap menjadi jalan pulang.

Padahal seharusnya tidak.

Kami pernah saling mencintai dalam usia yang masih mengira perasaan adalah alasan yang cukup untuk bertahan.

Ternyata tidak.

Ada perempuan lain.

Ada pintu yang diam-diam dibuka ketika aku masih sibuk percaya bahwa kami sedang membangun rumah yang sama.

Sisanya sederhana.

Orang-orang menyebutnya pengkhianatan.

Aku menyebutnya akhir.

Setidaknya, waktu itu aku mengira demikian.

Sebab ada hal-hal yang selesai di bibir, tetapi tidak pernah benar-benar selesai di dalam dada.

Aku memaafkannya.

Lalu membiarkan cinta kami mati sebagaimana mestinya.

Yang tidak kubiarkan mati adalah kebiasaan untuk tetap mengerti satu sama lain.

Mungkin itulah kesalahan pertamaku.

Atau mungkin justru penyelamatanku.

Aku tidak pernah tahu.

Tahun-tahun berlalu.

Hidup membawa kami ke arah yang berbeda, tetapi selalu menemukan cara untuk mempertemukan kami kembali di tikungan-tikungan yang tidak terduga.

Kadang kami berjalan bersama.

Kadang duduk terlalu lama di sebuah warung yang hampir tutup.

Kadang menertawakan hal-hal yang bahkan tidak lucu.

Kadang hanya diam.

Dan anehnya, diam bersamanya selalu terasa seperti bahasa.

Seolah ada bagian dari diriku yang tidak perlu menjelaskan apa pun agar bisa dimengerti.

Lalu suatu hari tubuhnya mulai runtuh.

Pelan-pelan.

Seperti rumah tua yang retaknya terlalu lama disembunyikan cat.

Awalnya tidak ada yang menyadari.

Manusia memang pandai menutupi kehancurannya.

Terutama lelaki.

Terutama lelaki yang terbiasa berpura-pura kuat.

Sampai pada suatu hari tubuhnya menyerah.

Benar-benar menyerah.

Aku melihatnya terbaring di atas ranjang rumah sakit dengan selang-selang yang tampak seperti akar pohon asing tumbuh dari tubuhnya.

Mesin-mesin berbunyi lirih di sekelilingnya.

Wajah-wajah cemas berdiri seperti bayangan.

Dan untuk pertama kalinya aku melihat seseorang yang selama ini kukenal sebagai tempat bersandar tampak begitu kecil.

Begitu rapuh.

Begitu manusia.

Aku berjaga.

Entah mengapa.

Barangkali karena cinta memang memiliki kebiasaan buruk: ia sering tetap tinggal bahkan setelah dikuburkan.

Ia sempat membaik.

Pulang.

Tertawa lagi.

Seolah maut hanya salah alamat.

Namun hidup rupanya belum selesai menagih sesuatu darinya.

Ia jatuh lagi.

Kali ini lebih dalam.

Ada hari-hari ketika ingatannya berhamburan seperti burung yang terkejut oleh suara tembakan.

Ada hari-hari ketika ia menatap orang-orang di sekelilingnya dengan mata yang seperti sedang mencari jalan pulang.

Dan di tengah semua itu, aku mengetahui sesuatu yang seharusnya tidak kuketahui.

Sebuah rahasia.

Tidak.

Rahasia bukan kata yang tepat.

Rahasia terdengar terlalu ringan.

Yang kutemukan hari itu lebih mirip sebuah ruang gelap yang selama ini tersembunyi di belakang hidupnya.

Seketika banyak hal menemukan jawabannya sendiri.

Malam-malam yang tidak pernah kuceritakan ulang.

Pengkhianatan yang dulu terasa tidak masuk akal.

Jejak-jejak kehidupan yang tidak pernah benar-benar sampai kepadaku.

Semua mendadak tersusun rapi seperti pecahan kaca yang akhirnya memperlihatkan bentuk luka asalnya.

Malam itu aku pulang membawa kesedihan yang berbeda.

Bukan karena aku mengetahui siapa dirinya.

Melainkan karena aku menyadari betapa lama ia menyembunyikan dirinya sendiri.

Sejak saat itu aku hidup dengan sebuah rahasia yang bukan milikku.

Dan mungkin itulah bentuk kesepian yang paling sunyi.

Mengetahui sesuatu yang besar tentang seseorang, tetapi harus berpura-pura tidak tahu agar ia tetap memiliki kesempatan untuk mengatakannya sendiri.

Ada banyak kali aku hampir menyerah.

Banyak kali kalimat itu sudah sampai di ujung lidah.

"Aku tahu."

"Kamu tidak perlu sembunyi lagi."

Tetapi selalu kutelan kembali.

Karena ada hal-hal yang tidak boleh dipetik sebelum matang.

Ada kejujuran yang kehilangan maknanya jika dipaksa lahir.

Maka aku menunggu.

Bukan pengakuannya.

Keberaniannya.

Aku menunggu hari ketika ia akhirnya lelah menjadi benteng bagi ketakutannya sendiri.

Hari ketika ia memilih membuka topeng yang selama ini lebih setia daripada wajahnya.

Hari ketika ia berkata:

"Ini aku."

Tanpa pembelaan.

Tanpa alasan.

Tanpa tempat bersembunyi.

Aku menunggu itu lebih lama daripada aku menunggu cinta.

Mungkin karena cinta pernah gagal menyelamatkan kami.

Sedangkan kejujuran, setidaknya, masih memiliki kesempatan.

Di sela penantian itu aku tetap datang.

Tanpa mengabari.

Mengetuk pintu rumahnya.

Mengajaknya keluar.

Mendengarkan cerita-cerita kecil yang berusaha terlihat biasa.

Kadang aku berpikir, mungkin beginilah bentuk cinta ketika sudah terlalu lelah untuk disebut cinta.

Ia tidak lagi meminta.

Tidak lagi menuntut.

Tidak lagi berharap menjadi tujuan.

Ia hanya duduk diam di sudut ruangan, memastikan seseorang yang disayanginya masih bernapas.

Sesederhana itu.

Sesedih itu.

Ada malam-malam ketika aku memandang wajahnya dan membayangkan kehidupan yang tidak pernah terjadi.

Sebuah kehidupan tanpa pengkhianatan.

Tanpa rahasia.

Tanpa tubuh yang perlahan memberontak kepada pemiliknya sendiri.

Tanpa ketakutan yang membuat masa depan terasa begitu jauh.

Dalam kehidupan itu mungkin kami baik-baik saja.

Mungkin.

Tetapi kehidupan itu tidak pernah lahir.

Dan manusia tidak hidup dari kemungkinan.

Manusia hidup dari apa yang tersisa.

Yang tersisa dariku adalah doa.

Yang tersisa darinya adalah waktu.

Aku tidak tahu mana yang lebih sedikit.

Kini, jika kau bertanya apa yang kuinginkan darinya, jawabannya sederhana.

Bukan maaf.

Maaf telah terlalu sering datang dan pergi seperti tamu yang tidak pernah menetap.

Bukan terima kasih.

Terima kasih tidak pernah benar-benar mengubah apa pun.

Aku hanya ingin suatu hari ia berani.

Berani menatap hidupnya sendiri.

Berani menyebut luka dengan namanya.

Berani membuka pintu yang selama ini ia jaga mati-matian.

Dan ketika hari itu datang, aku ingin berada di sana.

Bukan untuk menghakimi.

Bukan untuk menyelamatkan.

Hanya untuk mengatakan:

"akhirnya."

Karena beberapa orang tidak membutuhkan pelukan.

Mereka hanya membutuhkan seseorang yang tetap tinggal cukup lama untuk menyaksikan mereka memilih keberanian daripada ketakutan.

Jika suatu hari nanti ia benar-benar sembuh dari segala yang tidak terlihat oleh mata, lalu hidupnya membaik, lalu menemukan kebahagiaan yang tidak melibatkanku—

aku rasa aku akan baik-baik saja.

Barangkali sedikit sedih.

Barangkali sesekali rindu.

Tetapi baik-baik saja.

Sebab sejak lama aku menyadari bahwa aku tidak sedang memperjuangkan agar ia memilihku.

Aku hanya berharap ia memilih hidup.

Dan di antara semua bentuk cinta yang pernah kukenal, mungkin itulah yang paling sunyi:

mendoakan seseorang agar selamat dari dirinya sendiri.

Bahkan jika pada akhirnya ia sampai ke seberang tanpa menggandeng tanganmu.

Maka jika suatu hari kau melihat seorang perempuan datang tanpa mengabari, duduk di beranda sebuah rumah, lalu tersenyum ketika mendengar tawa dari dalam—

barangkali itu aku.

Sedang memastikan bahwa seorang lelaki yang pernah sangat kusayangi akhirnya berhasil pulang.

Bukan kepadaku.

Melainkan kepada dirinya sendiri.

-Arywmu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Beberapa langkah bijak yang perlu dilakukan oleh orang tua dalam pendidikan anak agar terjalin komunikasi yang baik dengan anak : 1. Jangan melarang. Jangan melarang keinginannya, seperti ketertarikan dengan lawan jenisnya. Kita wajib mendekati preferensi seksual anak, sehingga jika ada penyimpangan disfungsi psikoseksual bisa diatasi sejak dini. 2.  Menghargai pendapat mereka. Menghargai pendapat anak antara lain dengan menjadi pendengar yang baik, sehingga mendorong anak untuk mendekat dan mencurahkan isi hatinya. 3.  Jangan terlalu protektif. Jika kita terlalu protektif terhadap anak, kita tidak akan pernah tahu dengan siapa anak kita bergaul. Karena semakin dilarang, anak semakin membangkang. 4.  Menjadi teman dekatnya. Sehingga anak akan lebih mudah mengungkapkan isi hatinya dan problematikanya. Dan sebagai orang tua kita bisa memahami, menyelami dan berintuisi dengan permasalahan yang sedang dialami oleh anak remaja kita. source : http...

Cara Memasukan Gambar Atau Foto Dengan HTML

Assalammu'alaikum wr wb Oke untuk sahabat yang lagi mencari cari tutorial atau  Cara Memasukan Gambar / Foto Dengan HTML , saya akan mencoba menjelaskannya.  Gambar / Foto  pada sebuah blog bisa kita modifikasi mulai dari ukuran panjang dan lebarnya maupun menambah efek efek lain pada  Gambar Atau Foto  tersebut. Nah berikut adalah kode atau script  Memasukan Gambar / Foto Dengan HTML  : <img style=" width: 100px;  height: 120px;" src=" URL GAMBAR ATAU FOTO "> dengan keterangan img style   = kode untuk sebuah Gambar  HTML width         = Lebar dari Gambar yang akan sahabat masukan height       = Tinggi dari Gambar yang akan sahabat masukan src            = Pencarian lokasi Gambar atau Foto yang akan dimasukan Selanjutnya ganti tulisan  URL GAMBAR ATAU FOTO  dengan  url Gambar  yang akan sahabat masukan, sebagai conto...

AIRA & REVAN (REVAN POV)

Judul: “Yang Gagal Aku Jaga” Kalau kamu tanya siapa perempuan paling rumit sekaligus paling aku rindukan—jawabannya Aira. Aku dan dia itu kayak lagu lama yang nggak pernah selesai dimainkan. Dulu kami sahabatan, terlalu dekat sampai semua orang ngira kami pacaran. Padahal waktu itu aku cuma berani nunjukin rasa lewat perhatian kecil: nganterin dia pulang, dengerin curhatnya sampai tengah malam, atau nyimpen semua makanan yang dia suka. Sampai malam itu, waktu aku mabuk dan semua yang kupendam tumpah begitu aja. "Aku suka kamu, Ra... dari dulu." Aku pikir dia bakal kabur, atau ketawa. Tapi besoknya, dia ngajak aku jalan, dan dari situlah kami mulai sesuatu yang baru—lebih dari sahabat. Dan seperti semua yang terlalu cepat tumbuh, kami juga cepat patah. Waktu itu ada Tiara. Dia temen nongkrong, temen cerita juga. Aku nggak pernah punya niat buat nyakitin Aira, tapi aku juga terlalu pengecut buat ngusir orang yang selalu ada pas Aira lagi sibuk. Aku kejebak di tengah, da...